Selasa, 15 Mei 2012

Catatan Terakhir Kakakku


Catatan Terakhir Kakakku
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah adik yang baik bagimu bang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku adik yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan
,
abang tersayangku tunggu aku disurga…

Betapa terlukannya hati dwi, hari itu adalah ahri dimana dia kehilangan abang yang sanagt mencintainya, memang dia dan abangnya bukanlah saudara kandung, mereka adaah saudara yang dipertemukan oleh takdir. Mereka dipertemukan oleh Allah pada saat yang sangat indah, Dwi masih tak menyangka kakaknya pergi begitu cepat, padahal dia baru saja mendapatkan sosok seorang abang yang sangat mencintainya. Setelah sholat jumat jenasa kakaknya dimaukan kedalam liang lahat, tempat tidur terakhir sang kakak, setelah pemakanaman denagn hati yang sanagt terluka mata sembab, didatanginya kamar kontrakan sang kakak, temapat dimana dia dan kakak menghabiskan banyak waktu.
            Dibukanya album foto dengan judul aku dan adikku tersayang, lembar demi lembar dibukanya tak terasa air matanya jatuh membasahi foto foto itu, samapailah pada halaman terakhir dimana dia melihat selembar surat, yang bertuliskan untukku cintaku Dwi Pascal Yoga Riandam.
Untuk adiku tersayang,
Dwi Pascal Riandam
Adikku, mungkin saat kau membaca catatanku ini aku telah bahagia bersama Tuhan, Kamu jangan nagis sayang, aku selalu ada disini untuk menemani walau nyata telah memisahkan kita, adikku percayalah Allah punya rencana indah untuk kita, bukan kah aku hanya sementara didunia, kita pasti akan bertemu lagi de….
Adikku ingat kah saat kita bersama, dimana aku tak bisa jadi kakak yang baik untukmu de, kakak selalu memaksamau menemani kakak seharian padahal hal itu hal paling tak kau suka, dimana kakak selalu marah saat kau tak menghubungi kakak de, dan selalu mengeluh terhadapmu yang selalu setia bersamaku disini.
Adikku ingatkah saat kakak marah padamu karena kau tak mau membalas SMSku, kakak sebenarnya hanya ingin kau bisa terbuka pada kakak de, aku tahu kakak orang asing bagimu dan kehidupanmu, orang yang baru kau kenal lebih dari 2 tahun, orang yang selalu kau anggap aneh kerena perhatian yang begitu  berlebiahan, tapi bagiku itu tak masalah karena itu persaaanmu, tapi bagiku kaulah cahaya hidupku diujung usiaku yang sangat singkat ini.
Adikku ada banyak hal yang kita lewati bersama de…, ingat saat aku Ulang Tahun kamu berjanji aken menemaniku berseharian, tapi karena tugas dan hal lain sehingga kau lupa dengan janjimu, tapi itu tak masalah bagiku, melihatmu tersenyum itu lebih dari cukup bagiku.
Sayang….
Maafkan kakak yang mulai tertutup dan menjauhimu saat terakhir kakak, kakak hanya tak ingin kau terluka dengan kepergian kakak de…, kakak tahu itu sangat sulit bagikude.. aku harus menahan rasa kangen yang luar biasa terhadapmu de….
Maafkan kakak sayang…
Peluk dan cinta ini hanya bersama….
Your Brother…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar