Putus pacar,
putus tunangan, bercerai, dan lain-lain
bentuk akhir komitmen jelas bukan pengalaman menyenangkan. Lebih tak menyenangkan lagi bila dilakukan dengan cara
tak bijaksana.
Lihat contoh berikut. Hana akhirnya putus dari Ilmi,
tunangannya, setelah berkali-kali mereka
nyaris berpisah. Tidak jadi masalah pihak mana yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan. Ini bukan soal
siapa yang mendepak dan siapa yang didepak. Bisa jadi itu kemauan bersama. Yang
pasti, kali ini benar-benar tak ada
peluang sedikitpun untuk rekonsiliasi.
Anehnya, Hana tak
menangisi perpisahan. Juga tak meratapi
hari-hari sepi yang bakal ditempuhnya. Ia justru menyesali seluruh proses hubungannya dengan Ilmi. Coba dengar
ucapannya, "Ah, aku cuma buang-buang waktu. Betapa bodoh nya aku selama
tiga tahun memilih laki-laki seperti Irvan mendampingiku. Entah apa yang waktu
itu jadi
pertimbanganku.
Akhirnya aku malah menutup kesempatan untuk bertemu laki-laki lain yang
jauh lebih baik. Benar-benar
tolol."
Adakah yang salah
dengan penyesalan serupa itu? Jelas ada,
kata Dalma Heyn, kontributor majalah New Woman. Bagaimana mungkin, Dalma
menggugat, kita merasa telah membuang-buang waktu, setelah sebelumnya berharap hubungan akan terjalin untuk selama-lamanya.
Logika apakah yang membuat kita begitu sombong sehingga merendahkan usaha keras
kita dimasa lalu?
Apakah kegagalan
membolehkan kita melupakan semua hal baik yang pernah kita dapat dari satu hubungan?
Kata Dalma, mudah
dipahami mengapa kita memusuhi
perpisahan. "Semua manusia berharap, bahkan ngotot, menjalin hubungan
membahagiakan untuk selama-lamanya. Harapan ini adalah kebutuhan usang dan
mendalam yang melekat pada diri kita pada masa kecil. Pada masa itu,
kelekatan dengan orang-orang yang kita
cintai menjadi elemen sangat menentukan dalam hidup kita," jelasnya.
Putus hubungan
pada usia dewasa, mau tak mau meletupkan kembali teror masa kecil itu.
Perpisahan juga membuat kita terdorong
untuk menghapus jejak-jejak kekasih. Ada yang membakar surat cinta, ada
yang menaruh foto-foto mesra dilaci.
"Bahkan surat kabar acap memberitakan pria membunuh wanita yang
meninggalkannya," ucap Dalma.
Dalma meyakini,
perpisahan tidak selayaknya dibenci dan ditakuti. "Tidak semua orang
berkesempatan mengalami dan menikmati hubungan romantis. Sepatutnya kita
mensyukuri kesempatan itu," Dalma berargumentasi. Pengasuh rubrik Smart
Sex(tm) dimajalah New Woman(tm) Amerika ini mengingatkan, setiap bentuk
hubungan romantic termasuk pernikahan yang
bersifat institusional pada dasarnya tidak stabil, tidak permanen,
eksplosif, dan tak mudah dipahami.
"Banyak yang lupa betapa bergelombangnya hubungan cinta. Mereka tercebur ilusi bahwa cinta akan
berkobar selama-lamanya. Tak heran bila mereka gampang kecewa saat dihadapkan
pada perpisahan," urai Dalma.
"Selama-lamanya"
bukanlah "Segala-galanya".
SETIAP hubungan mendalam yang pernah kita alami, memaksa kita berusaha
keras untuk menjadikannya progresif.
Kalaupun berakhir, kita tak bisa menyangkal bahwa sekali waktu dulu kita menaruh ekspektasi
besar.
Dalma
menerangkan, "Semua hubungan
romantis, yang berlangsung pendek sekalipun, berfungsi membantu kita
mendefinisikan diri. Kita jadi tahu apa yang problematik bagi diri kita, juga
apa yang sangat menggoda. Yang lebih
penting, kita diarahkan untuk menyadari perkembangan pribadi, dan kualitas apa
yang kita cari dan coba kita kembangkan."
Dengan pacar
pertama, kita mungkin belajar menghadapi rasa takut. Dengan yang berikutnya,
barang kali kita berkesempatan mengeksplorasi
sensualitas. Dengan yang berikutnya lagi, siapa tahu kita melatih diri untuk berkelahi dengan sehat, setelah
sebelumnya lebih senang menyimpan kemarahan.
"Setiap
kekasih adalah pendatang baru dalam
hidup kita. Tiap-tiap mereka membuat kita harus terus-menerus belajar
cara menjalin komitmen. Mereka juga
bagai hantu yang membayangi kita. Dengan masing-masing mereka, kita melakukan
serangkaian pengulangan kebiasaan lama,
sekaligus melakukan eksperimen hal-hal baru. Mereka juga memungkinkan
kita mengkoreksi dan mengkonfirmasi masa
lalu, sekaligus melangkah ke masa depan,"
ungkap Dalma. Bila kita menyangkal pentingnya hubungan hanya karena
tidak berlangsung selama-lamanya seperti yang kita angankan, tidakkah berarti
juga menampik perjalanan kita dalam
memahami diri sendiri?
Merendahkan masa
lalu, demikian Dalma, sama saja dengan
merendahkan perkembangan pribadi. Padahal ada yang jauh lebih penting dan berharga ketimbang
faktor"selama-lamanya" : buah yang kita petik dari hubungan yang
kandas.
Nilai Cinta Tidak
Diukur Panjang Pendeknya Hubungan. KEGAGALAN hubungan tidak ditentukan
oleh panjang pendeknya. "Hubungan
patut disebut gagal bila pasangan saling berbohong, saling menyakiti, saling berkhianat, saling
merendahkan, dan saling perhitungan.
Tidak peduli betapapun lamanya berlangsung, hubungan terhitung gagal
bila dicemari hal-hal rendah seperti itu," paparDalma. Sebaliknya,
hubungan dinilai sukses jika pasangan
saling mencintai, saling mencurahkan waktu, dan saling berusaha mempertahankan. Perjuangan mencapai
kedekatan saja sudah menjadibukti
keberhasilan emosional dan psikologis, meski hubungan tak berumur panjang.
Berpisah Dengan
Damai MENUTUP uraiannya, Dalma mengajak untuk mengakhiri hubungan dengan penuh
respek. "Ini akan memberikan kita harga diri yang lebih besar dibanding bila kita
menyumpah-nyumpah," tegas Dalma. Ajakan ini diakui Dalma tidak gampang dibiasakan. Sebab
kita telah terbiasa merayakan segala
bentuk permulaan tahap hidup dari pertunangan, hari perkawinan, kepindahan ke rumah baru, pekerjaan baru,
kelahiran anak-anak tapi mengabaikan
akhir tiap-tiap tahap itu. Bentuk akhir yang diberi penghargaan tinggi
barangkali cuma yang memberikan sertifikat atau sejenisnya. Akhir pendidikan,
misalnya, yang memberikan kita gelar dan
ijazah.
Cara kita
mengakhiri hubungan, demikian Dalma,
secara dramatis mempengaruhi bagaimana perasaan kita pada mantan
pasangan, juga bagaimana perasaan pasangan pada kita. Selayaknya kita berucap
diakhir hubungan, "Aku senang
bersama denganmu. Aku sedih hubungan kita harus berakhir. Kuharap setelah
perpisahan ini kau mengalami
masa-masa
menyenangkan. Aku bersyukur berkesempatan berbagi banyak hal denganmu."
Norak? Tidak
Baik? Ya Juga bijaksana Mengucapkan salam perpisahan dengan ramah bukan hanya
simpatik, namun juga menunjukkan kebesaran hati.