Jumat, 14 Juni 2013

Stop Kekerasan untuk Anak Berkebutuhan Khusus




Siapa sie yang ingin jadi anak berkebutuhan khusus, tidak ada kali yang minta, kita ditakdirkan menjadi anak berkebutuhan khusus karena kita mampu untuk itu.  Tapi yang jadi kendala kami adalah saat kami mulai tumbuh menjadi anak, karena lingkungan kami tak tahu bahwa kami anak berkebutuhan Khusus, kami diperlakukan tanpa tahu potensi kami, padahal kami sungguh berbeda, kami tak bisa menggungkapkan apa yang kami inginkan atau apa yang kami mau, tapi bukan berarti kami bodoh? Kami juga anak Indonesia.
Suatu kecil saya bangga mama memasukkan saya di TK dan Gurunya mama saya sendiri, saya sangat senang belajar dan bermain walau saya sering marah dan tak suka dipaksa tapi mama mampu menyanyangiku luar biasa dan aku berhasil melewati fase taman kanak-kanakku.
Saatnya SD guru kelas 1 ku sangat baik sekali, aku belajar membaca dengan sangat cepat, namun tulisanku sangat jelek serta  aku tak bisa menghitung dan sangat susah mengikuti pelajaran olah raga. Namun itu bisa saya lewati karena guru kelas 1 ku sangat baik.
Sekarang aku kelas 2 SD dan guruku berganti, mulailah perlakuan kasar bagiku, mulai dari cacian kasar muali dari guruku, temanku bahkan sampai orangtua temanku dan rasanya sangat sakit apalagi ejekan mereka mulai keterlalu, saya di bilang autis atau gila bahkan sampai goblok.  Sakit banget rasanya, apalagi mama, mama sering nangis tiap kali saya direndahkan orang, aku benci orang yang membuat mama menangis.
Hari ini hari yang sangat membuatku ketakutan sampai sekarang, aku dipukul guruku hingga berdarah dan terluka parah.  Papa melarikanku kerumah sakit, sejak saat itu saya takut kesekolah dan tak mau sekolah lagi. 
Dua bulan rasanya saya sangat ketakutan apalagi saat mendengar suara keras.  Papa memindahkanku sekolah, Pelita Bunda menjadi tujuan sekolahku, disini aku belajar mengembangkan bakatku, belajar dengan rajin dan  gurunya sangat baik.  Apalagi pak Abi dia sangat tampan dan baik sekali.
Penuturan Aldi

Jumat, 31 Mei 2013

Dan Karenamu Ibu



Ribuan kilo jalan yang kau tempuh Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah..
Ingin ku dekat dan menangis dipangkuanmu. Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu. Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku dengan apa membalas, Ibu..

Begitulah "Bapak Orang Pinggiran" Iwan Fals dengan begitu puitis namun gamblang menggambarkan beratnya kehidupan yang harus dijalani seorang ibu demi mendidik dan membesarkan buah hatinya, kita !

Mari hadirkan kembali wajah sang ibu dalam bayangan kita, dengan seizin Allah genangan air mata akan membanjiri kelopak mata yang mungkin sudah sekian lama
kita biarkan tak menyapanya. Kerut di pipinya mengisyaratkan kelelahan yang sangat, tenaga yang mulai habis dimakan waktu seolah tak lagi sanggup sekedar mengangkat tubuh rapuhnya. Di bola matanya, nampak jelas guratan berat kehidupan yang telah dilaluinya. Semua itu, dilakukannya hanya untuk kita, yang dicintainya.

Cinta anak sepanjang gala, cinta ibu sepanjang masa. Pepatah yang biasa kita dengar untuk melukiskan betapa kita, anak-anak ibu, tidak akan pernah sanggup membayar (berapapun dan dengan apapun) cinta yang pernah diberikannya. Huwaish al Qorni, sahabat Rasulullah, rasa ingin membalas cinta sang ibu membuatnya rela ingin menggendong ibunya pulang pergi ibadah haji. Bahkan sahabat lain, dilarang pergi  berperang bersama Rasul, lantaran tidak ada yang mengurus ibunya yang sudah renta. "rawat dan layani ibumu," perintah Rasul kepada pemuda itu.

" Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun"
(QS. Lukman:14).

" Bahkan dalam ayat lain, begitu tegas Allah menekankan dan mengingatkan kesusahan ibu saat mengandung serta memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada ibu " (QS.Al-Ahqaf:15).

Ketika Nabi SAW ditanya tentang siapa yang paling patut dihormati dan diperlakukan sebaik-baiknya, Nabi menjawab: "Ibumu". Dan hal itu diulangnya sampai tiga kali, sebelum ia menyebut "bapakmu". Dalam hadits lain yang masyhur, Nabi SAW berkata bahwa surga terletak dibawah telapak kaki kaum ibu. Dalam perjalanan bersama ibu, perlakuan kasar kerap kita layangkan kepadanya. "Uf", "ah," "cis" menjadi kosa kata yang biasa terlontar dari mulut kotor ini. Tak pernah kita menghargai keringatnya kala menyiapkan sarapan dan makan malam. Andai kita tahu, air matanya tak pernah kering di pertengahan malam, kala ia mengadu kepada Allah perihal anak-anaknya. Bibirnya tak pernah berhenti berdo'a agar kita menjadi anak yang bisa dibanggakan. Tak peduli darah menjadi penghias kakinya demi menghantarkan sang buah hati menggapai cita.

Sekarang, imbalan apa yang diterima ibu dari anak-anak yang mungkin kinipun sudah beranak. Tidak jarang kesibukan kerja dan keluarga membuat kita melupakannya. Bahkan mungkin rasa cinta kepada istri dan anak-anak mengikis habis cinta kepada ibu (tentu cinta kepada Allah dan Rasulullah diatas segalanya). Tak sedikit waktu kita luangkan sekedar untuk tahu keadaannya, meski handphone tak pernah lepas dari tangan.

Sekarang, Kita semakin sombong, seolah tak membutuhkannya. Terlebih saat senang dan berkecukupan. tak sadar kita, ia begitu ikhlas atas air susu dan keringatnya.

Begitu banyak masalah kehidupan kita hadapi. Terkadang kita mengeluh, putus asa, tidak tahan dengan berbagai cobaan yang menerpa. Tak sadar, semua yang kita alami saat ini sesungguhnya pernah dilalui ibu, dan berhasil!

Kita terlalu lemah, cengeng dan selalu merasa kalah dalam mengarungi bahtera hidup. Padahal sering kita memandang sebelah mata 'kekuatan' ibu yang sudah renta. Tak sadar kita, garis wajahnya jelas-jelas memancarkan kekuatan teramat dahsyat.

Ia hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia, meski ia tidak sebahagia yang kita bayangkan. Tak sadar, sesungguhnya kita butuh kembali kepadanya, memandangi  keteduhan wajahnya, membelai tangan keriputnya, menciumi kakinya dan meminta do'anya.

Ketika Hubungan Berakhir



Putus pacar, putus tunangan, bercerai, dan  lain-lain bentuk akhir komitmen jelas bukan pengalaman menyenangkan. Lebih tak  menyenangkan lagi bila dilakukan dengan cara tak bijaksana.

Lihat contoh  berikut. Hana akhirnya putus dari Ilmi, tunangannya, setelah berkali-kali  mereka nyaris berpisah. Tidak jadi masalah pihak mana yang mengambil keputusan  untuk mengakhiri hubungan. Ini bukan soal siapa yang mendepak dan siapa yang didepak. Bisa jadi itu kemauan bersama. Yang pasti, kali ini benar-benar tak ada  peluang sedikitpun untuk rekonsiliasi.

Anehnya, Hana tak menangisi perpisahan. Juga  tak meratapi hari-hari sepi yang bakal ditempuhnya. Ia justru menyesali seluruh  proses hubungannya dengan Ilmi. Coba dengar ucapannya, "Ah, aku cuma buang-buang waktu. Betapa bodoh nya aku selama tiga tahun memilih laki-laki seperti Irvan mendampingiku. Entah apa yang waktu itu jadi
pertimbanganku. Akhirnya aku malah menutup kesempatan untuk bertemu laki-laki lain yang jauh  lebih baik. Benar-benar tolol."

Adakah yang salah dengan penyesalan serupa itu?  Jelas ada, kata Dalma Heyn, kontributor majalah New Woman. Bagaimana mungkin, Dalma menggugat, kita merasa telah membuang-buang waktu, setelah sebelumnya  berharap hubungan akan terjalin untuk selama-lamanya. Logika apakah yang membuat kita begitu sombong sehingga merendahkan usaha keras kita dimasa lalu?

Apakah kegagalan membolehkan kita melupakan semua hal baik yang pernah kita dapat dari  satu hubungan?

Kata Dalma, mudah dipahami mengapa kita  memusuhi perpisahan. "Semua manusia berharap, bahkan ngotot, menjalin hubungan membahagiakan untuk selama-lamanya. Harapan ini adalah kebutuhan usang dan mendalam yang melekat pada diri kita pada masa kecil. Pada masa itu, kelekatan  dengan orang-orang yang kita cintai menjadi elemen sangat menentukan dalam hidup kita," jelasnya.

Putus hubungan pada usia dewasa, mau tak mau meletupkan kembali teror masa kecil itu. Perpisahan juga membuat kita terdorong  untuk menghapus jejak-jejak kekasih. Ada yang membakar surat cinta, ada yang  menaruh foto-foto mesra dilaci. "Bahkan surat kabar acap memberitakan pria membunuh wanita yang meninggalkannya," ucap  Dalma.

Dalma meyakini, perpisahan tidak selayaknya dibenci dan ditakuti. "Tidak semua orang berkesempatan mengalami dan menikmati hubungan romantis. Sepatutnya kita mensyukuri kesempatan itu," Dalma berargumentasi. Pengasuh rubrik Smart Sex(tm) dimajalah New Woman(tm) Amerika ini mengingatkan, setiap bentuk hubungan romantic termasuk pernikahan yang  bersifat institusional pada dasarnya tidak stabil, tidak permanen, eksplosif,  dan tak mudah dipahami. "Banyak yang lupa betapa bergelombangnya hubungan cinta.  Mereka tercebur ilusi bahwa cinta akan berkobar selama-lamanya. Tak heran bila mereka gampang kecewa saat dihadapkan pada perpisahan," urai  Dalma.

"Selama-lamanya" bukanlah  "Segala-galanya". SETIAP hubungan mendalam yang pernah kita alami, memaksa kita berusaha keras  untuk menjadikannya progresif. Kalaupun berakhir, kita tak bisa menyangkal bahwa  sekali waktu dulu kita menaruh ekspektasi besar.

Dalma menerangkan, "Semua  hubungan romantis, yang berlangsung pendek sekalipun, berfungsi membantu kita mendefinisikan diri. Kita jadi tahu apa yang problematik bagi diri kita, juga apa yang sangat menggoda. Yang  lebih penting, kita diarahkan untuk menyadari perkembangan pribadi, dan kualitas apa yang kita cari dan coba kita kembangkan."

Dengan pacar pertama, kita mungkin belajar menghadapi rasa takut. Dengan yang berikutnya, barang kali kita berkesempatan  mengeksplorasi sensualitas. Dengan yang berikutnya lagi, siapa tahu kita melatih  diri untuk berkelahi dengan sehat, setelah sebelumnya lebih senang menyimpan kemarahan.

"Setiap kekasih adalah pendatang baru dalam  hidup kita. Tiap-tiap mereka membuat kita harus terus-menerus belajar cara  menjalin komitmen. Mereka juga bagai hantu yang membayangi kita. Dengan masing-masing mereka, kita melakukan serangkaian pengulangan kebiasaan lama,  sekaligus melakukan eksperimen hal-hal baru. Mereka juga memungkinkan kita  mengkoreksi dan mengkonfirmasi masa lalu, sekaligus melangkah ke masa depan,"  ungkap Dalma. Bila kita menyangkal pentingnya hubungan hanya karena tidak berlangsung selama-lamanya seperti yang kita angankan, tidakkah berarti juga  menampik perjalanan kita dalam memahami diri  sendiri?

Merendahkan masa lalu, demikian Dalma, sama  saja dengan merendahkan perkembangan pribadi. Padahal ada yang jauh lebih  penting dan berharga ketimbang faktor"selama-lamanya" : buah yang kita petik dari hubungan yang kandas.

Nilai Cinta Tidak Diukur Panjang Pendeknya Hubungan. KEGAGALAN hubungan tidak ditentukan oleh  panjang pendeknya. "Hubungan patut disebut gagal bila pasangan saling berbohong,  saling menyakiti, saling berkhianat, saling merendahkan, dan saling perhitungan.  Tidak peduli betapapun lamanya berlangsung, hubungan terhitung gagal bila dicemari hal-hal rendah seperti itu," paparDalma. Sebaliknya, hubungan dinilai  sukses jika pasangan saling mencintai, saling mencurahkan waktu, dan saling  berusaha mempertahankan. Perjuangan mencapai kedekatan saja sudah menjadibukti  keberhasilan emosional dan psikologis, meski hubungan tak berumur  panjang.

Berpisah Dengan Damai MENUTUP uraiannya, Dalma mengajak untuk mengakhiri hubungan dengan penuh respek. "Ini akan memberikan kita harga diri  yang lebih besar dibanding bila kita menyumpah-nyumpah," tegas Dalma. Ajakan ini  diakui Dalma tidak gampang dibiasakan. Sebab kita telah terbiasa merayakan  segala bentuk permulaan tahap hidup dari pertunangan, hari perkawinan,  kepindahan ke rumah baru, pekerjaan baru, kelahiran anak-anak tapi mengabaikan  akhir tiap-tiap tahap itu. Bentuk akhir yang diberi penghargaan tinggi barangkali cuma yang memberikan sertifikat atau sejenisnya. Akhir pendidikan, misalnya, yang memberikan kita gelar dan  ijazah.

Cara kita mengakhiri hubungan, demikian Dalma,  secara dramatis mempengaruhi bagaimana perasaan kita pada mantan pasangan, juga bagaimana perasaan pasangan pada kita. Selayaknya kita berucap diakhir  hubungan, "Aku senang bersama denganmu. Aku sedih hubungan kita harus berakhir. Kuharap setelah perpisahan ini kau mengalami
masa-masa menyenangkan. Aku bersyukur berkesempatan berbagi banyak hal denganmu."

Norak? Tidak Baik? Ya Juga bijaksana Mengucapkan salam perpisahan dengan ramah bukan hanya simpatik, namun juga menunjukkan kebesaran hati.

Selasa, 28 Mei 2013

Sekolah Inklusi Sekolahnya Manusia yang Manusia


Sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan, dimana siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan khusus sesuai dengan potensinya masing-masing dan siswa regular mendapatkan layanan khusus untuk mengembangkan potensi mereka sehingga baik siswa yang berkebutuhan khusus ataupun siswa regular dapat bersama-sama mengembangkan potensi masing-masing dan mampu hidup eksis dan harmonis dalam masyarakat.
Dalam sekolah inklusi ada kurikulum individual yaitu kurikulum khusus individu tertentu sehingga dengan metode seperti ini, sistem kurikulum mencoba mengembangkan anak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Tujuannya adalah membimbing anak untuk sukses dalam kehidupan masyarakat dengan bakat yang mereka miliki. Walaupun sekolah inklusi memiliki kurikulum individual bukan berarti kurikulum nasional diabaikan. Kurikulum individual itu sebagai pelengkap atau penyempurna kurikulum nasional sehingga perserta didik mampu lebih mengoptimalkan potensinya.
Sebelum sekolah inklusi berkembang, di Indonesia berkembang model sekolah Segregasi dan Integratif. Sekolah Segregasi yaitu sekolah yang menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus (tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita) ditempatkan sekolah khusus semacam sekolah luar biasa (SLB). Sedangkan sekolah integratif adalah sekolah yang memiliki kurikulum standar dan menghendaki setiap siswa untuk menempuh kurikulum tersebut. Biasanya yang dapat bersekolah di sekolah ini adalah siswa-siswa yang memiliki fisik dan mental yang normal. Sekolah model integratif ini adalah sekolah-sekolah yang banyak diketahui oleh masyarakat pada umumnya.
Sekolah Segregasi memang dirancang baik kurikulum maupun sarana prasarana untuk anak special need. Tetapi dalam kehidupan mereka kelak, mereka akan berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini membuat mereka sukar beradaptasi karena keluar dari lingkaran kenyamanan komunitas special need masuk dalam lingkungan yang baru yaitu masyarakat. Hal ini akan menjadi masalah ketika dua komunitas tersebut berbaur dalam masyarakat. Sekolah integratif yang pada umumnya terdiri dari siswa-siswa regular akan terasa asing dengan kehadiran special need, hal ini disebabkan karena mereka belum mengenal, mengetahui, dan memahami tentang special need. Untuk membiasakan anak-anak special need supaya mampu berinteraksi dalam masyarakat dan mampu hidup eksis dalam masyarakat dan bagi siswa regular tercipta pengetahuan, pemahaman serta peran aktif dalam berinteraksi dengan special need maka perlu adanya sebuah sistem sekolah yang memepertemukan mereka dalam satu sistem sekolah yaitu sekolah inklusi.
Sekolah inklusi pada dasarnya bertujuan merangkul semua siswa berbagai latar belakang dan kondisi dalam satu sistem sekolah dan mencoba untuk menemukan dan mengembangkan potensi siswa yang majemuk tersebut. Dalam mengembangkan potensi siswa tidak hanya diterapkan kepada siswa special need tetapi juga siswa yang lain yang bukan special need. Pada dasarnya setipa siswa memiliki potensi, Cuma kadang yang menajdi masalah adalah sekolah kurang jeli melihat potensi tiap-tiap siswa dan tidak ada progam individual untuk mengembangkan potensi masing-masing siswa tersebut. Dalam multiple intelligences oleh Howard Gardner di jelaskan bahwa kecerdasan/potensi seseorang tidak bertumpu pada kecerdasan intelektual saja, tetapi ada banyak kecerdasan yang lain, misalnya kecerdasan logis matematis yaitu berpikir dengan penalaran, mendudukan masalah secara logis, ilmiah dan kemampuan matematik. Ada kecerdasan linguistik verbal yaitu kemahiran dalam berbahasa untuk berbicara, menulis, membaca, menghubungkan dan menafsirkan. Ada juga kecerdasan musikal ritmik misalnya menyanyi, irama, melodi dan alat musik. Ada kecerdasan interpersonal yaitu keterampilan manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lain, mislanya dalam organisasi, memimpin, berpidato, bersosialisasi. Seseorang yang pandai menari, berolah raga, bermain drama merupakan seseorang yang memiliki kecerdasan kinestetik. Ada juga seseorang yang memiliki kecerdasan spacial visual misalnya seorang desainer, illustrator, peluksi. Selain itu ada juga kecerdasan naturalis dan intrapersonal. Setiap manusia pasti memiliki kedelapan kecerdasan diatas walaupun kuat disatu sisi dan lemah disisi lain.
Sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya terlalu fokus pada kecerdasan intelektual saja, sehingga kecerdasan yang lain kurang begitu ditangani apalagi dikembangkan. Disinilah peran sekolah inklusi di masa depan sebagai sekolah yang mampu menemukan dan mengembangkan potensi-potensi siswa baik siswa special need ataupun siswa reguler sehingga menjadi siswa yang sepcialis dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya. Kelak, generasi tersebut akan menjadi generasi yang ahli, harmonis dan memberi manfaat bagi diri sendiri, masyarakat dan bangsa.
Tak banyak sekolah Inklusi di Indonesia, apalagi di daerah pelosok di Indonesia, banyak kendala dalam pelaksanaan sekolah Inklusi, apalagi latar belakang sekolah tersebut adalah sekolah formal dengan anak semua normal, pemerintah langsung menunjuk sekolah tersebut menjadi sekolah inklusi tanpa pelatihan atau pembekalan maksimal yang diberikan kepada tenaga pengajar dengan latar belakang bukan pendidik luar biasa atau terapis untuk anak berkebutuhan khusus.

Di Samarinda sendiri sekolah inklusi sangat sedikit, diantaranya ada SD Negeri 016 Inklusi, SMP Negeri 7 Samarinda dan SMP Pelita Bunda.  Beberapa waktu yang lalu tim PSA News mengunjungi salah satu sekolah inklusi yang ada di Samarinda yaitu SMP Inklusi Pelita Bunda Samarinda jalan Markisa No. 62 Samarinda. Di sekolah ini anak-anak belajar dengan konsep sekolah formal dan pendidikan individual yang membuat anak menemukan bakatnya. Melalui hal yang anak suka inilah guru masuk dalam proses belajarnya. Selain itu pengajaran yang dilakukan juga banyak di luar kelas jadi sangat membantu anak dalam proses belajarnya.
So, jangan malu menyekolahkan anak anda disekolah Inklusi dengan metode pembelajaran formal dan individual.