Senin, 30 April 2012

Tentang Seseorang (Adikku Mati Begitu Muda)


Tentang Seseorang
(Adikku Mati Begitu Muda)
Sayang….
Memoriku membuncah saat itu
Entah karena ilalang yang sedang bergoyang di tiup angin
atau hati yang senantiasa di siram embun pagimu

Wahai adikku,
ku tuliskan sepucuk puisi cinta untukmu
Yang selalu tersenyum dalam tangisku, tangismu dan tangis dunia

Hai kebanggaan ku..
Bisakah kau sejenak duduk di dekatku?
Aku ingin kau mendengar tentang deskripsi suci hadirnya senyummu
dan betapa bahagia aku pernah memilikimu
bahkan telah di takdirkanNya menjadi kakakmu

Adikku yg tercinta
mari dengarkan suara dari keikhlasan hati ini
Ingatkah kau tentang malam-malam yg pekat yg telah kita tapaki dahulu?
Yang kita isi dengan canda, dengan cita, dengan mimpi, dengan harapan dan rencana.
Aku terkesima memilikimu
Sungguh terkesima

Adikku….
Ku harap kau jangan berlalu dahulu
Karena jari ku belum terhenti menguntai kata
Tahukah kau wahai permata hatiku?
Dan masih ingatkah kau?
Tentang cerita lalu yang berujung canda
Tentang cerita lalu yang berujung tangis
Dan tentang cerita lalu yang berujung kekesalan

Dan untukmu, Maafkan aku,
Kakakmu yang belum bisa membahagiakanmu
Yang belum bisa berbaik hati padamu lebih dari yang ku inginkan
Namun tahukah kau wahai adikku?
Dari hati yang terdalam
Aku sungguh mencintaimu
Aku pun bangga pernah memilkimu..
Dan untukmu,
Untuk yang jiwanya masih menempuh jalur putih
Untuk dirimu yang tercinta dan terkasih
Untuk sang embun yang selalu membasahi hati

Adikku,
Ku harap kiranya dirimu tak ungkit kekesalan yg kulakukan padamu
Aku hanya tak ingin Kau menjadi sebuah hal yang tak ingin aku bayangkan
Yang tak ingin aku impikan

Adikku,
Sekiranya aku marah padamu
Itu pun karena bentuk cintaku dan kasih sayangku
Maka  Ku harap engkau memaafkanmu

 Adikku,
Ternyata waktu begitu cepat bergulir
Canda pun mulai perlahan terhenti
Dan biarkan aku melukiskan senyum, tangis dan memori ini dalam derai air mata

Adikku,
Tidakkkah kau ingin mengucapkan selamat tinggal padaku?
Apakah senyumanmu sebelum itu adalah tanda perpisahan yang terakhir?
Apakah binar mata mu saat itu adalah sebuah tanda?
Apakah ucapan terima kasih mu saat itu adalah ungkapan cinta?

Padahal ingin ku ajak kau lebih mengenal dunia
Lebih mengenal esensi jati diri seorang khalifah sejati
Ingin ku lihatkan mahligai hati dari para pendahulu
Namun,cukup..
Karena ku tau  Rabb..mengambil mu dari sisiku
Sebagai tanda cintanya pada diriku,dirimu,dan keluarga kita..

Sungguh Aku ikhlas.
Sungguh Kami ikhlas melepasmu.
Pasti Kau telah berjumpa dengan Allah.
Pasti Kau telah menjabat tangan Rasulullah.
Sampaikan salam ku pada beliau.
Aku pun ingin berada di dekat beliau.

Semoga rumah tak sepi
Walau kakak tak lagi menemukan senyum mu saat kembali nanti
Walau kakak tak akan lagi mendengar komentar mu di setiap cerita
Walau kakak tak akan ditemani body guard kurus seperti mu lagi kini
Walau kakak tak akan di sibukkan lagi dengan mimpi dan inginmu
Walau kakak tak dapat pesanan Seri Conan, Sherlock Holmes, dan Poirot lagi
Walau kakak tak akan bertemu belahan hati seperti mu lagi

Terima kasih untuk  selalu menyukai apa yang kakak sukai
Terima kasih untuk selalu mendengarkan apa yang kakak bicarakan
Terima kasih untuk selalu menyetujui apa yang kakak yakini
Terima kasih untuk selalu menemani kemana kakak pergi
Terima kasih telah menjadi sosok yang kakak banggakan


Bahagialah Adikku
Kakak tak marah, walau kau tak berpamitan.
Kakak tak marah, walau kau tak menepati janji untuk sembuh.
Kakak tak marah,, sungguh...

Selamat jalan wahai khalifah hati..
Selamat jalan wahai permadani mata..
Wahai adikku.
Kau akan selalu ada di hati ini……

Adikku Muhammad Desmid……

Jumat, 27 April 2012

Maafkan Abi Bunda…..


Maafkan Abi Bunda…..
Raut wajah perempuan itu begitu bahagia
Melihat malaikat kecilnya menatap dunia
Senang yang hinggap di hatinya tak terperi
Seakan kesusahannya lenyap begitu saja

Dialah yang mencintaiku di pagi hari
Merawatku, bahkan membawaku jalan-jalan
Dalam dalam mobilnya.
Dalam hari-harinya ia terus berdoa untukku
Agar aku berguna bagi bangsa kelak, sesuai harapannya

Aku teringat, ketika aku baru mengenalnya
Ia selalu membelikanku baju
Mendandaniku seperti aku adalah boneka kesayangannya
Mengabulkan permintaanku ketika aku merengek
Tentunya selalu melindungiku
Mengasihiku dan menyayangiku tanpa lelah
Mengajariku tanpa peduli waktu yang ia punya
Baginya, aku adalah permata tak bernilai
Dialah, bundaku. 

Seorang yang menyayangiku lebih dari siapapun 
Bunda selalu berkorban banyak untukku
Ia bahkan rela mengorbankan dirinya
Agar aku dapat bahagia
Tapi apa balasan yang kuberikan pada bundaku?
Hanyalah bentakan bentakan dan caci maki
Aku sering sekali membuatnya menangis
Tetapi ia tetap sabar.

Pantaskah aku melawan Bunda,
yang selalu merawat dan menyayangiku?
Sesungguhnya itu tiadalah bermanfaat
Mengapa aku terus saja menyakitinya
Padahal ia tidak menyakitiku.
Perbuatanku sama sekali tidak dapat dibenarkan 

Maafkan aku, Bunda.
Telah membuatmu menangis tiap malam karena aku
Maafkan aku yang telah membuat hatimu sesak
Karena ulah bandelku
Maafkan aku,
Bundaku Farah Flamboyant...

Ketika Hati Terluka Parah (Masih Maaf Termaafkan?)


Ketika Hati Terluka Parah
(Masih Maaf Termaafkan?)
Tak pernah aku terpedaya oleh luka sesakit ini, ku coba terus mengahapusnya, melupakannya, membuangnya jauh, lukanya memang sembuh. Tapi bekasnya, menghitam dan berbau, tak kusangka lukanya seperti ini…..
“Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata -katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan, luka karena kata – kata adalah sama buruknya dengan luka berdarah.”
Pernah merasakan sakitnya kata – kata?, mungkin itu yang sering dirasakan banyak orang. Raja sekalipun, banyak orang yang begitu sensitif didunia ini. Seperti itulah yang menimpaku..
tak pernah terpikirkan, suatu hal yang menurut orang lain biasa mereka lakukan, akan berefek lain bagi orang yang lebih sensitif perasaannya.. kalau sudah yang demikian yang terjadi apa yang harus di lakukan oleh kita? ketika kita sebagai objek, sebuah perenungan yang indah jadikan itu sebagai latihan penempa kesabaran, pemantik sisi jiwa yang jarang tersentuh, pengkode ketegaran hati terhadap apa-apa yang membuatnya menjadi tidak nyaman, penghapus kesalahan-kesalahan, penyulut semangat untuk berbuat lebih baik, berhati lapang berjiwa besar,
dengan hati yang ikhlas memaafkan kesalahan saudara kita yang sedang khilaf, tanpa harus menunggu teman atau saudara kita meminta maaf..
Sebaliknya ketika ternyata kita yang menjadi subjek… ini yang sedikit berat.. tapi bagi yang terlanjur demikian… segeralah koreksi diri, koreksi sedetil-detilnya kekuranganmu.. jangan biarkan orang lain yang akan menemukan kejelekanmu dan membeberkannya kepada orang lain, sehingga engkau menjadi malu diri.. segera setelah kau dapatkan kekuranganmu, sketsakan itu pada diri dan pribadi teman atau saudaramu yang telah kau sakiti hatinya, lihatlah apakah kau lebih baik darinya atau justru engkau lebih buruk dan hina darinya….??
Segeralah melakukan perenungan itu sekarang,kawan…!!!
Sudah berapa banyak hati yang hancur,tersayat-sayat oleh pisau kata-kata kita..?
Sudah tak terhitung kebodohan yang kita perbuat yang ternyata tak pernah kita sadari?
Sudahkah kita meminta maaf dengan hati yang ikhlas, atas kesalahan-kesalahan kita?
Sudahkah teman atau saudara kita merasa tenang berdiri di dekat kita,karena lisan kita?

Sekali lagi prespektif yang harus di tarik sebagai sebuah keputusan yang bijak…sekali lagi sebagai bentuk eksistensi kita sebagai manusia lemah dan sekaligus khalifah yang handal dan teladan…

Kamis, 19 April 2012

Cinta Lelaki Tak Lelaki ( Gay Pilihan Hidupmu )


Cinta Lelaki Tak Lelaki ( Gay Pilihan Hidupmu ) 

Jangan pernah mengusik diriku, karena aku juga punya perasaan, kami memang berbeda dari kalian, kami lelaki yang mencintai sesama lelaki, tapi kami juga ingin disamakan dengan mereka, kami juga manusia, kami saling mencintai….
Kami memang sangat berbeda, sampai sekarang aku belum tahu mengapa aku begitu mencintainya, padahal ku sudah tahu ku berdosa…., tapi itulah cinta, cinta lelaki tak lelaki…
Zaman sekarang, gay sudah tidak lagi langka. Sebagian dari mereka pun sudah tidak lagi sungkan menunjukkan identitasnya sebagai pecinta sesama jenis. Maka, dengan mudah kita bisa menjumpai sepasang pria yang bergandengan tangan mesra di mal, bahkan berciuman di klub malam. Atau setidaknya, berapa banyak pria yang berani menindik salah satu sisi telinga  – saya kurang tahu persis sisi kanan atau kiri –  yang secara tidak langsung mengatakan bahwa :”Saya gay”?   
            Walau demikian, tidak semua orang bisa menerima kehadiran mereka di tengah masyarakat. Kaum religius beranggapan, mereka berdosa dengan menjadi seorang gay. Anggapan ini didasari oleh keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan gay. Apalagi, di dalam kitab suci, gay jelas dilarang. Saya sendiri akhirnya menemukan beberapa ayat dalam kitab suci yang saya yakini, bahwa hubungan intim sesama jenis adalah dosa. Bahkan Tuhan menghukum Sodom dan Gomora – kisah yang dapat kita temukan dalam kitab Taurat – pun karena penduduknya melakukan aktivitas homoseksual!
            Saya tidak akan menggunakan dalil kitab suci tersebut sebagai dasar pribadi untuk menolak gay. Memang, saya percaya bahwa Tuhan tidak menciptakan gay, walaupun ada orang tertentu yang lahir dengan kelainan kromosom sehingga tidak jelas jenis kelaminnya. Saya tetap berkeyakinan, menjadi gay adalah pilihan hidup seseorang. Tetapi itu bukan alasan untuk mendiskreditkan mereka. Menurut saya, kita juga harus belajar memahami mengapa mereka memilih menjadi gay. Ilmu kedokteran juga membuktikan bahwa sebenarnya semua orang punya kecenderungan mencintai sesama jenis, hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Kadar itu bisa bertambah atau berkurang, sesuai pengalaman hidup yang diperoleh seseorang. 
            Bisa jadi, waktu kecil mereka pernah menerima kekerasan seksual dari orang dewasa, seperti disodomi. Karena itu, mereka mengira bahwa sodomi adalah aktivitas seksual yang benar. Dan akhirnya mereka mengulangi tindakan itu dengan sesama pria saat mereka dewasa. Atau mungkin saja selama ini mereka hidup dalam penjajahan lawan jenis. Ibu yang dominan, saudara perempuan yang bossy. Maka mereka justru menemukan kasih sayang yang sejati dari sesama pria. Dunia ini punya terlalu banyak cerita, terlalu banyak kemungkinan. Masih banyak pula kemungkinan-kemungkinan mengapa orang menjadi gay, yang tidak dapat saya rinci satu persatu.
Karena itu, menurut saya, tidak patut bila kita menghakimi kaum gay. Kita tidak pernah tahu apa yang melatarbelakangi keputusan hidup mereka itu, bukan? Tidak adil bila kita lantas mengucilkan mereka dari pergaulan. Justru tindakan semacam itu hanya akan membuat mereka semakin nyaman dalam komunitas gay yang menerima mereka apa adanya. Mereka yang mungkin masih punya keinginan untuk membina keluarga dengan lawan jenis, akhirnya malah melupakan keinginan itu karena sikap kita yang menjauhi mereka.
Kalau kita memang ingin suatu saat mereka bisa menjadi pria heteroseksual, kita harus belajar menerima sambil berusaha menyelami dunia mereka. Siapa tahu kita bisa menemukan akar masalah yang membuat mereka menjadi gay. Dengan demikian, mungkin kita dapat memberi terapi yang tepat untuk mengurangi kadar gay mereka. Apalagi, kalau sebenarnya teman kita itu punya keinginan untuk menjadi pria pecinta lawan jenis. Saya sendiri sebenarnya juga ingin pria-pria gay bisa menjadi heteroseksual. Jumlah pria dibandingkan perempuan sudah tidak imbang. Akan lebih banyak perempuan yang harus melajang atau menjadi istri kesekian bila ingin berkeluarga, karena pria-pria yang jumlahnya sedikit itu pun sibuk mencintai sesama jenis.
Tetapi tetap, kita harus menghargai keputusan mereka untuk menjadi gay. Banyak gay yang nyaman dengan statusnya, dan tidak ingin mencintai lawan jenis, sekalipun mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi pria heteroseksual. Yang bisa kita lakukan menghadapi gay seperti ini adalah tetap menerima mereka sebagai sahabat. Hidup mereka adalah milik mereka sendiri, kita tidak berhak mengintervensi, bagaimanapun hubungan kita dengan mereka. Toh mereka sudah siap dengan segala resiko menjalani kehidupan gay. Soal hubungan dengan Tuhan, itu juga urusan pribadi mereka dengan-Nya. Banyak gay yang tetap rajin beribadah, bahkan mungkin lebih rajin daripada kita yang mengklaim diri ‘normal’.
Apalagi, menurut saya, seorang gay bisa menjadi sahabat terbaik bagi kaum perempuan. Karena mereka memiliki sosok pria yang melindungi, sekaligus sisi perempuan yang lembut dan sensitif. Kekayaan karakter seperti ini jarang bisa ditemukan pada pria/perempuan heteroseksual. Mungkin mereka memang tidak bisa dinikahi oleh perempuan, tetapi tidak ada ruginya melajang bila memiliki sahabat yang setia seumur hidup.
Gay juga bisa sukses, bila mereka bisa memberdayakan potensi dirinya. Lihat saja berapa banyak gay yang berhasil menjadi perancang busana ternama, atau perias wajah terkemuka. Mereka bahkan lebih mapan secara finansial daripada pria-pria yang dianggap ‘normal’ oleh masyarakat.
Akhirnya, saya ingin menekankan bahwa tidak adil bila kita menghakimi seseorang, hanya karena keputusan hidupnya yang berbeda dari kebanyakan orang. Gay juga manusia, yang butuh teman, butuh penerimaan. Tindakan mengucilkan dan mengolok-olok mereka hanya akan membuat kita terlihat sebagai manusia yang picik dan rendah, yang tidak bisa menerima perbedaan dan keyakinan orang lain.