Jumat, 31 Mei 2013

Ketika Hubungan Berakhir



Putus pacar, putus tunangan, bercerai, dan  lain-lain bentuk akhir komitmen jelas bukan pengalaman menyenangkan. Lebih tak  menyenangkan lagi bila dilakukan dengan cara tak bijaksana.

Lihat contoh  berikut. Hana akhirnya putus dari Ilmi, tunangannya, setelah berkali-kali  mereka nyaris berpisah. Tidak jadi masalah pihak mana yang mengambil keputusan  untuk mengakhiri hubungan. Ini bukan soal siapa yang mendepak dan siapa yang didepak. Bisa jadi itu kemauan bersama. Yang pasti, kali ini benar-benar tak ada  peluang sedikitpun untuk rekonsiliasi.

Anehnya, Hana tak menangisi perpisahan. Juga  tak meratapi hari-hari sepi yang bakal ditempuhnya. Ia justru menyesali seluruh  proses hubungannya dengan Ilmi. Coba dengar ucapannya, "Ah, aku cuma buang-buang waktu. Betapa bodoh nya aku selama tiga tahun memilih laki-laki seperti Irvan mendampingiku. Entah apa yang waktu itu jadi
pertimbanganku. Akhirnya aku malah menutup kesempatan untuk bertemu laki-laki lain yang jauh  lebih baik. Benar-benar tolol."

Adakah yang salah dengan penyesalan serupa itu?  Jelas ada, kata Dalma Heyn, kontributor majalah New Woman. Bagaimana mungkin, Dalma menggugat, kita merasa telah membuang-buang waktu, setelah sebelumnya  berharap hubungan akan terjalin untuk selama-lamanya. Logika apakah yang membuat kita begitu sombong sehingga merendahkan usaha keras kita dimasa lalu?

Apakah kegagalan membolehkan kita melupakan semua hal baik yang pernah kita dapat dari  satu hubungan?

Kata Dalma, mudah dipahami mengapa kita  memusuhi perpisahan. "Semua manusia berharap, bahkan ngotot, menjalin hubungan membahagiakan untuk selama-lamanya. Harapan ini adalah kebutuhan usang dan mendalam yang melekat pada diri kita pada masa kecil. Pada masa itu, kelekatan  dengan orang-orang yang kita cintai menjadi elemen sangat menentukan dalam hidup kita," jelasnya.

Putus hubungan pada usia dewasa, mau tak mau meletupkan kembali teror masa kecil itu. Perpisahan juga membuat kita terdorong  untuk menghapus jejak-jejak kekasih. Ada yang membakar surat cinta, ada yang  menaruh foto-foto mesra dilaci. "Bahkan surat kabar acap memberitakan pria membunuh wanita yang meninggalkannya," ucap  Dalma.

Dalma meyakini, perpisahan tidak selayaknya dibenci dan ditakuti. "Tidak semua orang berkesempatan mengalami dan menikmati hubungan romantis. Sepatutnya kita mensyukuri kesempatan itu," Dalma berargumentasi. Pengasuh rubrik Smart Sex(tm) dimajalah New Woman(tm) Amerika ini mengingatkan, setiap bentuk hubungan romantic termasuk pernikahan yang  bersifat institusional pada dasarnya tidak stabil, tidak permanen, eksplosif,  dan tak mudah dipahami. "Banyak yang lupa betapa bergelombangnya hubungan cinta.  Mereka tercebur ilusi bahwa cinta akan berkobar selama-lamanya. Tak heran bila mereka gampang kecewa saat dihadapkan pada perpisahan," urai  Dalma.

"Selama-lamanya" bukanlah  "Segala-galanya". SETIAP hubungan mendalam yang pernah kita alami, memaksa kita berusaha keras  untuk menjadikannya progresif. Kalaupun berakhir, kita tak bisa menyangkal bahwa  sekali waktu dulu kita menaruh ekspektasi besar.

Dalma menerangkan, "Semua  hubungan romantis, yang berlangsung pendek sekalipun, berfungsi membantu kita mendefinisikan diri. Kita jadi tahu apa yang problematik bagi diri kita, juga apa yang sangat menggoda. Yang  lebih penting, kita diarahkan untuk menyadari perkembangan pribadi, dan kualitas apa yang kita cari dan coba kita kembangkan."

Dengan pacar pertama, kita mungkin belajar menghadapi rasa takut. Dengan yang berikutnya, barang kali kita berkesempatan  mengeksplorasi sensualitas. Dengan yang berikutnya lagi, siapa tahu kita melatih  diri untuk berkelahi dengan sehat, setelah sebelumnya lebih senang menyimpan kemarahan.

"Setiap kekasih adalah pendatang baru dalam  hidup kita. Tiap-tiap mereka membuat kita harus terus-menerus belajar cara  menjalin komitmen. Mereka juga bagai hantu yang membayangi kita. Dengan masing-masing mereka, kita melakukan serangkaian pengulangan kebiasaan lama,  sekaligus melakukan eksperimen hal-hal baru. Mereka juga memungkinkan kita  mengkoreksi dan mengkonfirmasi masa lalu, sekaligus melangkah ke masa depan,"  ungkap Dalma. Bila kita menyangkal pentingnya hubungan hanya karena tidak berlangsung selama-lamanya seperti yang kita angankan, tidakkah berarti juga  menampik perjalanan kita dalam memahami diri  sendiri?

Merendahkan masa lalu, demikian Dalma, sama  saja dengan merendahkan perkembangan pribadi. Padahal ada yang jauh lebih  penting dan berharga ketimbang faktor"selama-lamanya" : buah yang kita petik dari hubungan yang kandas.

Nilai Cinta Tidak Diukur Panjang Pendeknya Hubungan. KEGAGALAN hubungan tidak ditentukan oleh  panjang pendeknya. "Hubungan patut disebut gagal bila pasangan saling berbohong,  saling menyakiti, saling berkhianat, saling merendahkan, dan saling perhitungan.  Tidak peduli betapapun lamanya berlangsung, hubungan terhitung gagal bila dicemari hal-hal rendah seperti itu," paparDalma. Sebaliknya, hubungan dinilai  sukses jika pasangan saling mencintai, saling mencurahkan waktu, dan saling  berusaha mempertahankan. Perjuangan mencapai kedekatan saja sudah menjadibukti  keberhasilan emosional dan psikologis, meski hubungan tak berumur  panjang.

Berpisah Dengan Damai MENUTUP uraiannya, Dalma mengajak untuk mengakhiri hubungan dengan penuh respek. "Ini akan memberikan kita harga diri  yang lebih besar dibanding bila kita menyumpah-nyumpah," tegas Dalma. Ajakan ini  diakui Dalma tidak gampang dibiasakan. Sebab kita telah terbiasa merayakan  segala bentuk permulaan tahap hidup dari pertunangan, hari perkawinan,  kepindahan ke rumah baru, pekerjaan baru, kelahiran anak-anak tapi mengabaikan  akhir tiap-tiap tahap itu. Bentuk akhir yang diberi penghargaan tinggi barangkali cuma yang memberikan sertifikat atau sejenisnya. Akhir pendidikan, misalnya, yang memberikan kita gelar dan  ijazah.

Cara kita mengakhiri hubungan, demikian Dalma,  secara dramatis mempengaruhi bagaimana perasaan kita pada mantan pasangan, juga bagaimana perasaan pasangan pada kita. Selayaknya kita berucap diakhir  hubungan, "Aku senang bersama denganmu. Aku sedih hubungan kita harus berakhir. Kuharap setelah perpisahan ini kau mengalami
masa-masa menyenangkan. Aku bersyukur berkesempatan berbagi banyak hal denganmu."

Norak? Tidak Baik? Ya Juga bijaksana Mengucapkan salam perpisahan dengan ramah bukan hanya simpatik, namun juga menunjukkan kebesaran hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar