Cinta Lelaki Tak Lelaki ( Gay
Pilihan Hidupmu )
Jangan pernah mengusik diriku,
karena aku juga punya perasaan, kami memang berbeda dari kalian, kami lelaki
yang mencintai sesama lelaki, tapi kami juga ingin disamakan dengan mereka,
kami juga manusia, kami saling mencintai….
Kami memang sangat berbeda, sampai
sekarang aku belum tahu mengapa aku begitu mencintainya, padahal ku sudah tahu
ku berdosa…., tapi itulah cinta, cinta lelaki tak lelaki…
Zaman sekarang, gay sudah tidak lagi langka. Sebagian dari
mereka pun sudah tidak lagi sungkan menunjukkan identitasnya sebagai pecinta
sesama jenis. Maka, dengan mudah kita bisa menjumpai sepasang pria yang
bergandengan tangan mesra di mal, bahkan berciuman di klub malam. Atau
setidaknya, berapa banyak pria yang berani menindik salah satu sisi
telinga – saya kurang tahu persis sisi kanan atau kiri – yang
secara tidak langsung mengatakan bahwa :”Saya gay”?
Walau demikian, tidak semua orang bisa menerima kehadiran mereka di tengah
masyarakat. Kaum religius beranggapan, mereka berdosa dengan menjadi seorang
gay. Anggapan ini didasari oleh keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan gay.
Apalagi, di dalam kitab suci, gay jelas dilarang. Saya sendiri akhirnya
menemukan beberapa ayat dalam kitab suci yang saya yakini, bahwa hubungan intim
sesama jenis adalah dosa. Bahkan Tuhan menghukum Sodom dan Gomora – kisah yang
dapat kita temukan dalam kitab Taurat – pun karena penduduknya melakukan
aktivitas homoseksual!
Saya tidak akan menggunakan dalil kitab suci tersebut sebagai dasar pribadi
untuk menolak gay. Memang, saya percaya bahwa Tuhan tidak menciptakan gay,
walaupun ada orang tertentu yang lahir dengan kelainan kromosom sehingga tidak
jelas jenis kelaminnya. Saya tetap berkeyakinan, menjadi gay adalah pilihan
hidup seseorang. Tetapi itu bukan alasan untuk mendiskreditkan mereka. Menurut
saya, kita juga harus belajar memahami mengapa mereka memilih menjadi gay. Ilmu
kedokteran juga membuktikan bahwa sebenarnya semua orang punya kecenderungan
mencintai sesama jenis, hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Kadar itu bisa
bertambah atau berkurang, sesuai pengalaman hidup yang diperoleh
seseorang.
Bisa jadi, waktu kecil mereka pernah
menerima kekerasan seksual dari orang dewasa, seperti disodomi. Karena itu,
mereka mengira bahwa sodomi adalah aktivitas seksual yang benar. Dan akhirnya
mereka mengulangi tindakan itu dengan sesama pria saat mereka dewasa. Atau
mungkin saja selama ini mereka hidup dalam penjajahan lawan jenis. Ibu yang
dominan, saudara perempuan yang bossy. Maka mereka justru menemukan
kasih sayang yang sejati dari sesama pria. Dunia ini punya terlalu banyak
cerita, terlalu banyak kemungkinan. Masih banyak pula kemungkinan-kemungkinan
mengapa orang menjadi gay, yang tidak dapat saya rinci satu persatu.
Karena itu, menurut saya, tidak patut bila kita menghakimi
kaum gay. Kita tidak pernah tahu apa yang melatarbelakangi keputusan hidup
mereka itu, bukan? Tidak adil bila kita lantas mengucilkan mereka dari
pergaulan. Justru tindakan semacam itu hanya akan membuat mereka semakin nyaman
dalam komunitas gay yang menerima mereka apa adanya. Mereka yang mungkin masih
punya keinginan untuk membina keluarga dengan lawan jenis, akhirnya malah
melupakan keinginan itu karena sikap kita yang menjauhi mereka.
Kalau kita memang ingin suatu saat mereka bisa menjadi pria
heteroseksual, kita harus belajar menerima sambil berusaha menyelami dunia
mereka. Siapa tahu kita bisa menemukan akar masalah yang membuat mereka menjadi
gay. Dengan demikian, mungkin kita dapat memberi terapi yang tepat untuk
mengurangi kadar gay mereka. Apalagi, kalau sebenarnya teman kita itu punya
keinginan untuk menjadi pria pecinta lawan jenis. Saya sendiri sebenarnya juga ingin pria-pria gay bisa menjadi heteroseksual.
Jumlah pria dibandingkan perempuan sudah tidak imbang. Akan lebih banyak
perempuan yang harus melajang atau menjadi istri kesekian bila ingin
berkeluarga, karena pria-pria yang jumlahnya sedikit itu pun sibuk mencintai
sesama jenis.
Tetapi tetap, kita harus menghargai keputusan mereka untuk
menjadi gay. Banyak gay yang nyaman dengan statusnya, dan tidak ingin mencintai
lawan jenis, sekalipun mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi pria
heteroseksual. Yang bisa kita lakukan menghadapi gay seperti ini adalah tetap
menerima mereka sebagai sahabat. Hidup mereka adalah milik mereka sendiri, kita
tidak berhak mengintervensi, bagaimanapun hubungan kita dengan mereka. Toh
mereka sudah siap dengan segala resiko menjalani kehidupan gay. Soal hubungan
dengan Tuhan, itu juga urusan pribadi mereka dengan-Nya. Banyak gay yang tetap
rajin beribadah, bahkan mungkin lebih rajin daripada kita yang mengklaim diri
‘normal’.
Apalagi, menurut saya, seorang gay bisa menjadi sahabat
terbaik bagi kaum perempuan. Karena mereka memiliki sosok pria yang melindungi,
sekaligus sisi perempuan yang lembut dan sensitif. Kekayaan karakter seperti
ini jarang bisa ditemukan pada pria/perempuan heteroseksual. Mungkin mereka
memang tidak bisa dinikahi oleh perempuan, tetapi tidak ada ruginya melajang
bila memiliki sahabat yang setia seumur hidup.
Gay juga bisa sukses, bila mereka bisa memberdayakan potensi
dirinya. Lihat saja berapa banyak gay yang berhasil menjadi perancang busana
ternama, atau perias wajah terkemuka. Mereka bahkan lebih mapan secara
finansial daripada pria-pria yang dianggap ‘normal’ oleh masyarakat.
Akhirnya, saya ingin menekankan bahwa tidak adil bila kita
menghakimi seseorang, hanya karena keputusan hidupnya yang berbeda dari
kebanyakan orang. Gay juga manusia, yang butuh teman, butuh penerimaan.
Tindakan mengucilkan dan mengolok-olok mereka hanya akan membuat kita terlihat
sebagai manusia yang picik dan rendah, yang tidak bisa menerima perbedaan dan
keyakinan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar