Ketika Hati Terluka Parah
(Masih Maaf Termaafkan?)
Tak pernah aku terpedaya oleh luka
sesakit ini, ku coba terus mengahapusnya, melupakannya, membuangnya jauh,
lukanya memang sembuh. Tapi bekasnya, menghitam dan berbau, tak kusangka
lukanya seperti ini…..
“Ketika kamu melontarkan sesuatu
dalam kemarahan, kata -katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang di hati
orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau
itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap
ada. Dan, luka karena kata – kata adalah sama buruknya dengan luka berdarah.”
Pernah
merasakan sakitnya kata – kata?, mungkin itu yang sering dirasakan banyak
orang. Raja sekalipun, banyak orang yang begitu sensitif didunia ini. Seperti
itulah yang menimpaku..
tak pernah terpikirkan, suatu hal yang menurut orang lain biasa mereka lakukan, akan berefek lain bagi orang yang lebih sensitif perasaannya.. kalau sudah yang demikian yang terjadi apa yang harus di lakukan oleh kita? ketika kita sebagai objek, sebuah perenungan yang indah jadikan itu sebagai latihan penempa kesabaran, pemantik sisi jiwa yang jarang tersentuh, pengkode ketegaran hati terhadap apa-apa yang membuatnya menjadi tidak nyaman, penghapus kesalahan-kesalahan, penyulut semangat untuk berbuat lebih baik, berhati lapang berjiwa besar,
dengan hati yang ikhlas memaafkan kesalahan saudara kita yang sedang khilaf, tanpa harus menunggu teman atau saudara kita meminta maaf..
tak pernah terpikirkan, suatu hal yang menurut orang lain biasa mereka lakukan, akan berefek lain bagi orang yang lebih sensitif perasaannya.. kalau sudah yang demikian yang terjadi apa yang harus di lakukan oleh kita? ketika kita sebagai objek, sebuah perenungan yang indah jadikan itu sebagai latihan penempa kesabaran, pemantik sisi jiwa yang jarang tersentuh, pengkode ketegaran hati terhadap apa-apa yang membuatnya menjadi tidak nyaman, penghapus kesalahan-kesalahan, penyulut semangat untuk berbuat lebih baik, berhati lapang berjiwa besar,
dengan hati yang ikhlas memaafkan kesalahan saudara kita yang sedang khilaf, tanpa harus menunggu teman atau saudara kita meminta maaf..
Sebaliknya
ketika ternyata kita yang menjadi subjek… ini yang sedikit berat.. tapi bagi
yang terlanjur demikian… segeralah koreksi diri, koreksi sedetil-detilnya
kekuranganmu.. jangan biarkan orang lain yang akan menemukan kejelekanmu dan
membeberkannya kepada orang lain, sehingga engkau menjadi malu diri.. segera
setelah kau dapatkan kekuranganmu, sketsakan itu pada diri dan pribadi teman
atau saudaramu yang telah kau sakiti hatinya, lihatlah apakah kau lebih baik
darinya atau justru engkau lebih buruk dan hina darinya….??
Segeralah
melakukan perenungan itu sekarang,kawan…!!!
Sudah
berapa banyak hati yang hancur,tersayat-sayat oleh pisau kata-kata kita..?
Sudah tak terhitung kebodohan yang kita perbuat yang ternyata tak pernah kita sadari?
Sudahkah kita meminta maaf dengan hati yang ikhlas, atas kesalahan-kesalahan kita?
Sudahkah teman atau saudara kita merasa tenang berdiri di dekat kita,karena lisan kita?
Sekali lagi prespektif yang harus di tarik sebagai sebuah keputusan yang bijak…sekali lagi sebagai bentuk eksistensi kita sebagai manusia lemah dan sekaligus khalifah yang handal dan teladan…
Sudah tak terhitung kebodohan yang kita perbuat yang ternyata tak pernah kita sadari?
Sudahkah kita meminta maaf dengan hati yang ikhlas, atas kesalahan-kesalahan kita?
Sudahkah teman atau saudara kita merasa tenang berdiri di dekat kita,karena lisan kita?
Sekali lagi prespektif yang harus di tarik sebagai sebuah keputusan yang bijak…sekali lagi sebagai bentuk eksistensi kita sebagai manusia lemah dan sekaligus khalifah yang handal dan teladan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar