Jangan usik hidupku karena aku juga tidak mengusik hidupmu. Tidak usah menghujaniku dengan segala kothbah tentang dosa cinta sejenis karena kamu tidak merasakan apa yang kurasakan!.
Dahulu aku selalu membentengi diriku dengan tameng seperti itu. Apalagi setelah aku mulai sampai ke tahap menerima jati diriku sebagai lesbian. Dalam hati aku, rasa bersalah itu sudah mati. Tidak ada lagi debar ketakutan. Semuanya terasa normal. Aku merasa punya hak yang sama dengan yang lain. Aku juga berani berdebat dengan kakak kandungku yang mengetahuinya. Bahkan aku menantang kakakku untuk membuka jati diriku di depan keluarga karena aku nga suka kakakku mencampuri urusanku. Aku bilang padanya memangnya kenapa kalau aku lesbian!. Aku kan tidak menyusahkan kalian!.
Luar biasa kata-kata yang keluar dari mulutku saat itu ....
Hidup memang pilihan. Menjadi lesbian juga pilihan.
Tetapi apakah pilihanku menjadi lesbian adalah pilihan yang sesuai dengan kehendakNya ?
Saat itu pendapat orang lain yang bertentangan kusebut tidak menghargai hak azazi. Cerita Sodom dan Gomora kusebut ketidak adilan Tuhan. Nasehat kusebut menghakimi. Kalau bukan untuk dipilih kenapa juga pilihan itu ada.
Kenyataannya saat aku memilih untuk menjadi lesbian, Tuhan tidak menghukumku! Karirku baik. Tetap berbakti kepada orang tua. Aku bahagia dengan pacarku. Aku tetap menolong sesama. Aku nga jahat sama orang lain. Hidupku tenang. Uang bukan masalah. Aku tidak kekurangan apapun. Sementara yang hidupnya normal malah tidak sebaik aku hidupnya. Jadi nga ada yang salah kan dengan pilihanku.
Empat tahun kemudian aku kembali dihadapkan kepada pilihan tetap menjadi lesbian atau berhenti sama sekali. Saat memilihnya, aku tidak sendirian. Karena kasihNya yang sungguh besar, aku dibimbing untuk memilih berhenti sama sekali.
Aku tidak lantas menjadi orang yang super sukses karena pilihan itu. Usahaku biasa saja. Aku masih tetap berusaha keras mencari uang. Walaupun dalam hati aku sangat berharap mendapat kado dari Tuhan karena telah memilih-Nya. Sampai berbulan-bulan biasa saja. Bahkan sekarang aku nga punya kendaraan lagi dan usahaku macet. Bukan hanya macet tapi diambang kebangkrutan. Kalau akhir bulan ini aku nga mencapai omset penjualan, aku terpaksa menutup mini konter karena nga sanggup bayar sewa.
Aku menangis hampir tiap hari karena terlalu sedih dengan kenyataan aku akan bangkrut. Saat-saat aku dalam kondisi sedih, justru aku merasakan hadirat Tuhan yang begitu kuat. Airmata yang mengalir keluar bukan lagi airmata penyesalan tapi airmata sukacita. Bukan keputusasaan yang kurasakan tetapi pengharapan yang sangat besar. Aku percaya dan mengucap syukur atas semuanya
Kenapa ?.
Karena seandainya saja Tuhan tidak membimbingku dalam membuat pilihan hidup , Tuhan tahu aku nga akan kuat menghadapi persoalan ini. Aku bisa saja menjadi stress atau bahkan mati ! Mujizat telah terjadi didalam hidupku!.
Saat aku memilih untuk berhenti menjadi lesbian, Tuhan berjalan di depanku. Dan itulah yang menjadi kehendak-Nya. Dia menjadi mata bagiku karena sesungguhnya aku adalah orang buta dibumi ini.
Cobalah menutup mata, cobalah untuk melangkah, secara naluri kamu akan menajamkan telingamu, memperkuat indra penciumanmu, mempergunakan perasaanmu dan melangkah perlahan-lahan. Mungkin kamu akan mengambil tongkat untuk antisipasi sesuatu dihadapanmu. Kamu akan tertawa saat berhasil berjalan beberapa meter dan menangis saat tersandung. Kamu akan berfikir kamu sangat berpengalaman berjalan dengan mata tertutup dan tidak akan tersandung lagi. Ingat, jalan yang dilalui tidak pernah sama!.
Saat matamu tertutup, kemudian ada yang mengulurkan tangan kepadamu menawarkan bantuan untuk berjalan bersama, akankah kau tepiskan tangan itu ?. Pilihan itu ada padamu.
Ratusan buku mengenai teori lesbian yang bisa diterima nalar manusia. Agama mulai tidak menentang perkawinan sesama jenis. Ada banyak lembaga yang mendukung hubungan sesama jenis. Hukum mulai melegalkan perkawinan sesama jenis. Ada banyak pemuka agama yang menyebut hubungan sesama jenis bukan dosa. Ada banyak contoh pasangan sesama jenis yang hidup sukses.
Untuk sesaat bagi yang sudah memilih maupun belum , cobalah renungkan pilihanmu. Baca kembali semua referensi tentang sesama jenis yang bisa kamu cerna. Jangan patok hatimu pada satu sisi. Baca yang pro dan kontra. Kemudian tanya baik-baik hatimu, " dimanakah aku tempatkan Tuhan saat aku memutuskan pilihan ?".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar